Laman

Selasa, 30 September 2025

Chapter 4: Rumah Kecil yang Membuatku Ingin Selalu Kembali

     GoodVibes tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan ketika pelanggan jarang datang, ada kehidupan kecil yang berdenyut di dalamnya. Dari aroma liquid baru yang menusuk hidung, suara tuts gitar yang kadang sumbang, sampai tawa receh yang mengisi sela-sela waktu. 

    Nesya adalah pusat dari itu semua. Ia berdiri di balik etalase dengan rambutnya yang kadang dikuncir ponytail yang dimana itu memberikan damage yang besar kepadaku, atau dengan rambutnya yang digerai jatuh melewati bahunya. Jarinya yang cekatan membolak-balik cartridge, memutar-mutar kawat, atau sekadar menatap layar ponsel toko dengan wajah serius. Dan entah kenapa, setiap aku datang, ia selalu menyapaku. Tidak dengan senyum yang dibuat-buat, tapi dengan ekspresi sederhana yang anehnya bisa membuatku betah berdiri di sana lebih lama.

    Aku sering bermain gitar temanku bayu di toko. Tidak ada maksud muluk. Sekedar mengisi waktu, mengusir jenuh. Tapi dari situ, tercipta sesuatu yang lebih indah. Suara kecil Nesya yang ikut bernyanyi. Awalnya malu-malu, hanya satu-dua bait lagu requestannya Halley's Comet atau TV dari Billie Eilish, lagu yang ternyata menjadi favoritnya. Tapi bagiku, itu seperti hadiah. Suaranya Lirih, Sedikit serak, namun jujur, seperti suara hati yang tanpa memakai topeng.

    Ada satu momen yang tidak pernah kulupakan dan sudah kusimpan di highlights IG-ku. Aku memainkan lagu Pluto Projector dari Rex Orange County. Biasa saja, hanya aku, gitarku, dan suasana toko yang sedang lengang. Tanpa kusadari, tiba-tiba ia mengeluarkan ponselnya dan merekamku lalu mengunggahnya ke Instagram Story-nya. Sebuah tindakan kecil, tapi bagiku sangat besar sekali. Untuk pertama kalinya(Lagi) setelah sekian lama, aku merasa dilihat, dianggap, bahkan mungkin... dibanggakan.

    Setiap detail sederhana semakin menjadi berarti bagiku. Obrolan singkat didepan etalase, Rokok atau Pod dan Mod yang kami hisap bergantian di luar toko. Tawa yang muncul dari reels receh yang selalu kukirimkan setiap harinya, meski balasannya kadang datang lama sekali. Atau ketika ia meminjamkan Mod vapenya yang hingga saat ini masih ada bersamaku, mengajariku cara memasang kapas ke RDA dengan settingan khasnya yang ternyata sangat pas sekali di tenggorokanku.

    Semua itu bukanlah momen besar. Tidak ada kembang api, tidak ada tepuk tangan. Tapi di situlah letak keajaibannya. Dari hal-hal kecil itulah, aku mulai merasa bahwa aku tidak hanya sekedar singgah di toko itu. Aku menemukan rumah kecil yang membuatku ingin selalu kembali. 

To Be Continue.