Hari-hari setelah pertemuan pertama itu berjalan seperti biasa, setidaknya di mata orang lain. Tapi Bagiku, ada yang berbeda. Setiap langkah menuju Goodvibes membawa degup yang sama. "Apakah hari ini aku akan melihatnya lagi?".
Aku masih belum berani mendekat. Belum Berani menyebut namanya, bahkan sekedar membuka percakapan sederhana. Aku hadir sebagai pengunjung, duduk disudut, merokok dengan rokok Camel kuningku yang setia sejak masa kuliah. Sesekali aku pura-pura sibuk dengan ponsel, padahal mataku mencuri pandang.
Dia selalu sibuk, mondar-mandir dibalik meja, tertawa kecil dengan pelanggan lain, atau sekedar merapikan barang dagangan di Etalasenya. Aku hanya bisa menatap dari jauh. Ada rasa rindu yang tumbuh begitu cepat, bahkan sebelum aku benar-benar mengenalnya. Rindu yang sebetulnya tidak masuk akal.
Sore itu, aku sering bertanya pada diriku sendiri. "bagaimana bisa aku jatuh sejauh ini pada seseorang yang bahkan tidak kukenal?". Logika berkata, MUSTAHIL. Perbedaan latar belakang, keyakinan, dan dunia yang kami jalani seolah menjadi jurang yang tak bisa kugapai. Aku hanya anak pribumi berdarah Padang-betawi, seorang muslim yang sedang berjuang keluar dari depresinya. Sementara dia seorang perempuan Chinese yang entah kenapa terasa begitu jauh sekaligus begitu dekat.
Tapi hati tak pernah bisa ditawar. Setiap kali matanya sekilas menoleh kearahku, ada getaran yang tak bisa kujelaskan. Entah nyata atau hanya khayalan, aku merasa tatapan itu menyisakan sesuatu. Dan diam-diam, aku mulai menunggu. Menunggu alasan untuk datang kembali kesana, menunggu kesempatan untuk sekadar menyapanya. Walau aku tahu, mungkin dalam semesta yang luas ini, aku tak lebih dari orang asing yang lewat dalam hidupnya.
Namun, perasaan yang lahir di Goodvibes hari itu tak bisa kuabaikan. sebuah jarak yang kutakutkan akan selalu ada... perlahan-lahan justru menjadi magnet yang menarikku semakin dekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar