Hari-hariku berubah sejak nomor Whatsapp itu akhirnya berpindah ke ponselku. Awalnya, alasan yang ia berikan sederhana, "Biar kalau urgent ngga perlu lewat IG, soalnya aku jarang buka." iya, aku sudah mengetahui namanya dan kami sudah berteman di Instagram dan sering kali aku mengirim video atau reels lucu kepadanya supaya menambahkan mood saat dia bekerja di toko vape itu. Tapi bagiku, itu lebih dari sekadar praktis. Itu seperti undangan diam-diam untuk masuk ke lingkaran kecil hidupnya.
Suatu malam, di luar toko GoodVibes dan kopi nome, Nesya bercerita tentang hubungannya yang terakhir dengan nelson. Aku hanya diam mendengarkan, hingga tanpa kusadari air matanya mulai membasahi pipinya. Aku terpaku. Belum pernah sebelumnya ada seseorang yang begitu dekat denganku hingga berani menangis di depanku. Aku ingin menenangkannya, menghiburnya, tapi rasanya momen itu bukan untuk kata-kata. jadi aku hanya duduk, mendengarkan, mencoba menjadi telinga yang ia butuhkan.
Setelah tangisnya reda, aku yang tetap menghisap rokokku dan dia yang menghisap modnya. Tiba-tiba, tanpa diduga, Nesya meraih ponselku. "Pinjam ya," katanya singkat. Klik! Ia ber-selfie dengan santai, lalu menyerahkan kembali ponselku. Aku nyaris tidak percaya. Selama ini aku sering diam-diam mencuri candid fotonya, tapi kali ini ia sendiri yang meninggalkan jejak di ponselku. Foto yang tidak perlu kucuri, foto yang benar-benar ia berikan. rasanya sederhana, tapi bagiku, begitu berarti.
Sejak hari itu kami semakin akrab. Aku lebih berani mengajaknya bernyanyi sedikit di toko jika toko dalam keadaan sepi pembeli, makan siang bareng, melempar candaan receh yang membuatnya tertawa lepas yang terkadang benar benar lepas tak terkendali hingga terdengar seperti suara babi. Aku pun jadi punya alasan baru untuk mampir ke toko hampir setiap hari. Melihat Nesya, Menemani Nesya, Membuatnya tersenyum.
Lalu tibalah tanggal 20 Agustus, Hari ulang tahunnya. Aku ingat nelson pernah menyebutkannya padaku, dan sejak jauh-jauh hari aku sudah bingung memilih hadiah apa yang akan kuberikan kepadanya. Apa yang ia sukai? Aku tak pernah benar-benar menanyakannya. Tapi dari ponsel dan wallpapernya, aku tahu ia menyukai Baymax, si robot putih dari Big Hero 6.
Aku sempat menimbang banyak pilihan, buku catatan, baju, boneka, sepatu, tapi kemudian terpikir nesya hanya libur sehari dalam seminggu, pasti butuh istirahat yang nyaman. jadi kupilih lampu tidur berbentuk si robot putih itu. Selain itu, aku memperhatikan ia sering menyukai postingan berisi love quotes. Awalnya aku ingin memberinya buku 'Love, Spelled In Poetry', dengan cover berwarna merah, warna kesukaannya. Tapi setelah kubaca bait demi bait, halaman demi halaman buku itu, sepertinya terlalu jelas seolah-olah aku ingin menunjukkan perasaanku. Jadi akhirnya kupilih buku lain. 'The Moon and Her Secret' karya Leony Jardine yang sangat kebetulan penulisnya bernama Leo dan Nesya berzodiak Leo.
Hadiah itu kusimpan, dan baru tiga hari setelah hari ulang tahunnya aku memberikannya karena aku lupa tanggal hari ulang tahunnya. Aku masih ingat raut wajahnya saat menerima hadiahnya. Senyum itu... Ah, Senyum yang membuatku semakin yakin.
Malamnya, Ponselku bergetar dan muncul notif Whatsapp dari Nesya. Sebuah pesan masuk darinya
"Makasih kadonya suka banget hahaha gilaaakk."
Pesan itu langsung jadi favoritku. Aku tersenyum lama sekali melihat pesan itu, bahkan berhari-hari setelahnya. Kami pun sempat berdiskusi tentang isi buku itu. Yang mana halaman favoritnya, bait puisi yang membuatnya terhenti sejenak
Sejak itu, percakapan kecil mulai bersemi. Tidak banyak, hanya lemparan reels receh, balasan yang kadang lama, lalu tawa-tawa singkat yang muncul diantara jeda kesibukan. Tapi aku merasa.. aku sedang masuk perlahan, dengan cara yang tidak memaksa tentunya. Aku sudah lama tidak mampir ke Goodvibes setelah kontrakku di UOB tidak diperpanjang, aku harus mengencangkan ikat pinggang. Kehadiran ke toko mulai jarang, bukan karena ingin menjauh, tetapi karena isi dompet yang semakin menipis. Aku pasrah, mungkin intensitas kami akan mereda.
Namun, Sebuah notifikasi mengubah segalanya. Sebuah pesan sederhana, singkat tapi langsung membuat jantungku pecah ke segala arah.
"Main dong ke goovi. Kangen."
kata itu "Kangen" membuatku terdiam. Aku menatap layar lama sekali, memastikan aku tidak salah baca. "Kangen". Kata yang bahkan jarang kudengar dari teman-temanku. Aku langsung merasa.. penting. Dirindukan. Refleks, aku langsung berangkat. Aku ingin sekali lagi melihat wajah itu, mendegar tawanya, menyerap setiap detik kebersamaan yang tiba-tiba jadi terasa begitu mahal. Perasaan itu semakin meledak ketika aku sedang solo traveling seminggu di Karimunjawa dan seminggu di Jogja-Solo, aku beristirahat di rumah fajrul teman baikku. Notifikasi lain masuk. Kali ini lebih dahsyat.
"Cepat Pulang, Saya Kangen."
Aku tersenyum sumringah dan tertawa kecil sambil menutup wajahku dengan tangan. Bagaimana bisa perempuan yang selama ini kuanggap cahaya jauh, Kini justru menarikku dengan cara yang begitu lugas?. Pada Saat itu aku langsung mengecheck aplikasi Access by KAI untuk mengecheck jadwal keberangkatan kereta stasiun lempuyangan - pasar senen. Ya, tentu saja kereta bengawan dengan tarif 74 Ribu sudah terjual habis. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiket Bus Sinar Jaya dari aplikasi Redbus yang padahal aku benci naik bus. Tidak on time, tidak nyaman, dan takut tidak bisa BAB sepanjang perjalanan. Tapi apa artinya semua itu dibandingkan dengan kata "Kangen". Aku membalas "Okay, Aku besok balik nih."
Keesokan harinya aku pulang. Dan di Goodvibes, "Ness, kamu laper ga? ini aku ada oleh oleh dari jogja, atau kalo kamu bawa bekel atau udah makan bisa dicemilin nanti aja" aku menyerahkan sebuah gantungan kunci ayam goreng sebagai oleh-oleh. Murah, sederhana, bahkan receh. Tapi tawanya meledak ketika menerimanya, dan itu cukup membuatku merasa pemberianku berharga.
Hari itu aku pulang dengan hati yang ringan. Untuk Pertama kalinya(lagi), aku merasa bukan hanya aku yang berjalan menuju dirinya, tapi dia juga melangkah ke arahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar